Dalam kehidupan Islam sebagaimana yang dapat kita baca dalam sejarah Rasulullah atau buku-buku yang menggambarkan kehidupan Islam pada masa Rasulullah Saw, aktivitas kaum lelaki dan wanita terpisah, kecuali dalam beberapa aktivitas khusus yang diperbolehkan syari'at. Misalnya, Islam menggariskan bahwa perempuan harus menutup aurat dihadapan lelaki yang bukan mahramnya, memerintahkan perempuan untuk menundukan pandangan dan menjaga kehormatan dan kemuliannya di hadapan lelaki. Dalam Shalat, lelaki diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk melakukan secara berjamah di masjid, tidak diperintahkan bagi wanita walau boleh saja mereka ikut berjaamah di masjid. Pemisah ini bukan ditujukan untuk mengekang dan menyusahkan, tetapi menjaga kehormatan dan kemuliaan wanita itu sendiri, menjaga masa depannya agar penuh dengan kebaikan.
Karena Islam adalah Agama Preventif, Allah melarang keras untuk mendekati zina, apalagi melakukannya. Maka Islam menutup semua jalan untuk menuju perzinaan. Selain karena zina merupakan dosa besar di sisi Allah, perbuatan itu juga sangat merugikan, bagi lelaki apalagi wanita, dan kehidupan manusia secara umumnya.
Namun Islam tidak menyusahkan lelaki maupun wanita. Dalam hal-hal yang memang jelas dan perlu, syariat membolehkan interaksi antara lelaki dan wanita. Misalnya medis, peradilan, perdagangan, pendidikan, akad kerja, dan segala aktivitas syar'i yang memang menuntut adanya interaksi di natara lelaki dan wanita.
Islam mengharamkan aktivitas interaksi antara lelaki dan wanita yang tidak berkepentingan syar'i, seperti jalan-jalan bersama, pergi bareng ke mesjid atau kajian Islam, bertamasya, nonton bioskop dsb. Aktivitas ini adalah pintu menuju kemaksiatan yang lain.
Bagaimana bila cuma jalan-jalan, ngga berduaan?
Khalwat itu bukan hanya bisa terjadi saat berduaan, walau di tempat umum dan bersama-sama yang lain, tetap saja khalwat bisa terjadi dan itu juga tidak diperkenankan.
Bila berkumpul bersama, hang out bareng, makan bareng, dan segala pertemuan yang tidak perlu saja tidak dibenarkan di dalam Islam, apalagi aktivitas pacaran yang mengarah ke maksiat? tentu lebih dilarang.
Banyak pengingat dari Rasulullah dalam perkara berdua-duaan yang menjadi inti pacaran dan semua hubungan yang sekarang merusak remaja dan pemuda Islam.
"janganlah salah diantara dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita, karena sesungguhnya setan menjadi yang ketiga di antara mereka berdua." (HR. Ahmad, Ibn Hibban, Al-Thabrani, dan Al-Baihaiqi)
Bukan anak muda bila tidak beralasan, bukan lelaki bila tidak berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. beberapa alsan lelaki dan wanita yang menghalalkan pacaran:
a. pacaran itu menambah semangat belajar
Mungkin pada awalnya semangat belajar karena ingin membuktikan kepada pacarnya kalau dia pintar, nah ini saja sudah bermasalah niatnya, namun ke depan yang terjadi justru nilai jeblok.
Karena pacaran itu ibarat candu yang bikin ketagihan. Nafsu yang harus dipenuhi. Akhirnya malah kepala penuh dengan khayalan dan bayangan tidak semestinya. Jadi, mungkin tepat bila pacaran itu belajar mengkhayal, atau malah lebih tepat belajar maksiat.
b. Pacaran ngga ngapa-ngapain kok, cuma pegangan tangan
Tau nggak, "cuma" itu kata yang berbahaya. Karena semua kemaksiatan awalnya juga "cuma". Selingkuh itu ya awalnya juga "cuma" teman, Hamil itu ya awalnya juga "cuma" pegangan.
c. Pacaran cuma katakan sayang, katakan kangen.
Setiap amal dan lisan manusia akan Allah hisab, tiada satupun yang luput dari pengawasan-Nya. Mengatakan kata-kata yang tidak hak bagimu dan tidak halal baginya adalah kesalahan. Kehormatan wanita harus dijaga, kemuliaannya pun harus dilindungi. Itu berarti tidak mengucapkan kata-kata sebelum waktunya. Karena kata cinta dan sayang sebelum pernikahan adalah percuma.
Mungkin kamu meremehkan kata-kata yang tak halal. Namun, ia ibarat bisikan setan yang merambat lewat pendengaran, lalu memicu untuk melakukan amal-amal terlarang lainnya. Ingat bahwa semua dosa besar diawali dengan "cuma".
d. Pacarankan buat dia bahagia, bukankah menyenangkan orang itu amal saleh?
Bukan kebahaagian yang engkau berikan saat pacaran, lebih tepatnya adalah kenikmatan sementara, yang ada batasnya dan menuntut korban. Tambah lagi, sebenarnya siapa sih, yang engkau bahagiakan dirinya atau dirimu sendiri?
e. Pacaran karena aku sayang kepadanya
Dusta! Bagaimana mungkin katakan sayang bila sebenarnya dia tidak pernah peduli dengan masa depan seseorang yang katanya dia sayang?
Pacaran adalah aktivitas maksiat, yang mengundang petaka dunia dan malapetaka akhirat. Bila serius sayang, tentu takkan rela bila tubuh yang disayanginya disentuh api neraka karena perbuatan maksiat.
Bilang sayang tapi membahayakan, Bilang cinta tapi menjerumuskan!
Sember: Uda Putusin Aja by Felix Y. Siauw

Tidak ada komentar:
Posting Komentar